tips strategi influencer marketing untuk bisnis

Pengiklan sering menggunakan influencer untuk meningkatkan kesadaran merk, karena masyarakat cenderung percaya kepada influencer yang mereka kagumi, dan kadang-kadang berkeinginan ingin seperti mereka. Apalagi, saat ini batasan untuk menjadi influencer sudah menjadi semakin luas. Seseorang dapat membangun komunitas yang besar melalui media sosial dan tidak terbatas hanya di satu platform. Anda mungkin mempunyai konten yang luar biasa untuk kampanye ifluencer marketing. Tetapi, konten tersebut tidak akan berhasil dengan maksimal jika tidak dibawakan oleh influencer yang tepat. Temukan influencer yang terbiasa membuat konten yang bagus dan berhubungan dengan bidang bisnis Anda. Jangan terpaku kepada influencer dengan komunitas yang sangat besar, karena tingkat relevansi juga penting. Jangan lupa untuk membuat kontrak legal yang jelas, seperti panduan boleh atau tidak boleh yang dilakukan oleh influencer berkaitan dengan merk. Brand jangan hanya mengirimkan produk saja, tetapi pelu ditambahkan catatan mengenai poin penting agar dapat menjadi panduan yang jelas bagi influencer. Influencer biasanya lebih suka menerima kompensasi berupa uang tunai. Pembayaran berupa produk atau jasa kadang-kadang diterima jika nilainya sama atau lebih besar daripada uang tunai yang mereka biasa dapatkan. Dan, influencer biasanya akan menolak jika pembayaran hanya berupa kredit atau featured di website brand. Bersikap terbuka di awal mengenai tujuan yang ingin dicapai akan menentukan keberhasilan influencer marketing.

Banyak brand pengiklan menjalankan digital marketing, tetapi tidak mengerti mengenai digital marketing secara mendalam. Termasuk ketika ingin menjalankan influencer marketing.
Akhirnya, sering terjadi ironi yang fatal, kita pengiklan yang bayar, tetapi influencer / youtuber / endoser / digital agency yang menetukan kpi atau indeks prestasi.

Contoh yang SALAH tetapi BIASA terjadi :
Brand (B) : Saya mau donk di-endorse untuk produk saya.
Endoser (E) : Boleh banget! Harganya Rp. 10 juta sekali tayang.
B : Mahal ya, boleh gak Rp. 6 juta aja?
(Btw, ada lho Brand yang tanya “harga Rp. 10 juta itu termasuk harga produk yang kita kasih ke Anda?” Lucu banget ini)
E : Hmm… Karena saya suka dengan produk Anda (serius!!???), saya kasih harga Rp. 8 juta aja d.
B : Wow! Terima kasih sekali ya!!!

Contoh Pertama yang saya SARANKAN :
Brand (B) : Saya mau donk di-endorse untuk produk saya.
Endoser (E) : Boleh banget! Harganya Rp. 10 juta sekali tayang.
B : Boleh gak kalau kita pakai skema ini
Jika Anda mau endorse, saya kasih Rp. 6 juta
Jika endorse Anda mencapai #sekian# view, saya kasih bonus Rp. 2 juta
Jika endorese Anda jadi trending, saya kasih bonus Rp. 3 juta

atau Contoh Kedua :
B : Anda harus mengajak follower Anda untuk belanja di online shop kami dengan kode voucher khusus #NamaYoutuberAsik# dan setiap orang yang menggunakan kode voucher tersebut, Anda akan mendapat sekian Rupiah.

Tentu saja, masih banyak ide lain yang pasti lebih baik dari contoh yang SALAH yang telah saya sebutkan. Ubah mindset mengenai influencer marketing, maka ide kpi yang lebih terarah akan lebih mudah ditemukan.

Contoh lain di endose dari youtuber : film yang ada endorse harus ditonton dengan durasi lebih dari 90% atau hampir selesai. Jadi bukan cuma soal jumlah view saja, karena view film youtube dapat dibeli.

Lebih bagus lagi, penawaran skema kpi yang terarah juga diajukan oleh endoser, bukan hanya dari pengiklan, karena itu dapat menjadi acuan dasar bahwa endoser juga perhatian dengan produk kita.

Jangan mau dibohongi oleh para marketer yang berlindung aksi bakar duit di balik alasan branding, tetapi dengan kpi yang tidak jelas.

Saya share ini bukan ingin menjatuhkan bisnis influencer marketing, tetapi impian saya adalah digital marketing (termasuk influencer marketing) di Indonesia semakin lebih matang dan semakin banyak perusahaan yang merasakan manfaat signifikan dari digital marketing.
Saya sedih sekali jika mendengar cerita para alumni peserta pelatihan saya yang pernah dibohongi oleh digital agency yang tidak bertanggung jawab dan punya sejuta alasan menghindar ketika performa tidak memuaskan. Dan cerita-cerita sedih itu SELALU ada di setiap batch pelatihan Google Ads saya, mulai dari kesalahan kecil hingga kesalahan yang membuat brand antipati ketika mendengar digital marketing.

Influencer Marketing sudah ada sejak permulaan media sosial ada, dimana zaman dulu brand menggunakan media broadcast, seperti tv, radio dan billboard papan iklan yang menampilkan selebriti atau artis untuk endorse suatu produk dan memberikan influence kepada orang-orang. Konten yang original dan relevan untuk dikonsumsi oleh pasar yang tepat adalah hal yang selalu untuk menjadi prioritas untuk diperhatikan.

Contact Us : Whatsapp 08888097722 / training@erudite-indonesia.com

Related Training :