kesalahan umum pemilik brand

Banyak orang yang masih menganggap digital marketing sebagai dunia asing yang kompleks dan sulit dimengerti. Hal ini semakin diperparah oleh sebagian digital agency yang menambah rumit dan lebih membingungkan, dengan tujuan agar pemilik brand / pengiklan menyerahkan semua proses digital marketing kepada agency, termasuk proses penentuan indek prestasi / kpi. Ditambah lagi dengan laporan kinerja yang tidak transparan dan sulit dimengerti.

Anda mungkin berpikir, bagaimana mungkin pengiklan yang mengeluarkan uang untuk digital marketing, tetapi pihak lain yang menentukan kpi. Contoh paling sederhana adalah Google Adwords / Search Engine Marketing (SEM). Banyak pemilik brand sudah mengetahui apa itu SEM, yang pada intinya adalah kita menempatkan iklan pada saat pengguna Google mencari produk atau jasa yang ditawarkan dan penangihan berdasarkan jumlah klik, dan banyak pemilik brand yang tertarik untuk mencobanya. Lalu, tanpa mempelajari lebih lanjut apa itu SEM, pemilik brand biasanya langsung mencari digital agency yang dirasa mampu atau ahli menjalankan SEM. Sebagian besar digital agency akan menawarkan skema “anda bayar kami sekian Rupiah, kami janjikan anda akan mendapatkan sekian klik.” Misalnya, Rp. 20 juta sebulan dan dijanjikan minimal 8 ribu klik. Maka, pemilik brand langsung tercipta mindset metode penetapan kpi tersebut, dan merasa puas jika bisa me-“nekan” hingga (misalnya) Rp. 20 juta untuk 10 ribu klik. Bahkan jika perlu, cari digital agency yang lain, tetapi tetap dengan mindset kpi yang sama. Padahal kpi Google Adwords bukanlah hanya sekedar jumlah klik, tetapi banyak faktor lain yang variatif tergantung dari tujuan digital marketing yang ingin dicapai. Ironis bukan?

Digital marketing sebetulnya mudah dimengerti, hanya membutuhkan logika atau common sense saja dan meluangkan waktu untuk mempelajari konsep sebelum mulai menjalankan. Dan prinsip yang berlaku di non digital marketing sebagian besar dapat diterapkan di digital marketing. Contoh sederhana lainnya, jika pemilik brand menggunakan / dititip sensor dari pihak ketiga untuk menganalisa jumlah pengunjung sebuah toko offline, maka adalah hal yang wajar atau otomatis akan terjadi jika pemilik brand melepaskan sensor titipan tersebut jika tidak lagi menggunakan jasa pihak ketiga tersebut. Tetapi, banyak ditemukan hal tersebut tidak terjadi di digital marketing. Sensor yang dimaksud adalah Google Analytics Tag, Adwords Remarketing Tag, Facebook Pixel Audience, dan tag-tag titipan lainnya.
Mungkin anda berpikir, mungkin pemilik brand lupa melepas sensor titipan tersebut dan seharusnya digital agency mengingatkan untuk melepas sensor tersebut di akhir masa kontrak. Bahkan jika perlu, mengingatkan terus-menerus dan memonitor hingga sensor tersebut sudah dilepaskan. Ironisnya, layanan after-sales tersebut jarang dilakukan oleh banyak digital agency. Entah karena memang tidak perduli atau ada tujuan lain di balik ironi tersebut.

Sekali lagi, artikel ini bukan bertujuan untuk memojokkan digital agency, karena masih banyak digital agency yang benar dan perduli dengan klien. Kami dari Erudite Training Provider hanya ingin menyampaikan sebagian kecil contoh-contoh ironi yang kami temukan pada saat kami memberikan pelatihan kepada para pemilik brand, baik untuk topik Google Adwords dan Analytics. Tujuannya, agar pemilik brand mau belajar lebih dalam mengenai digital marketing sebelum menjalankannya, sehingga budget marketing yang sudah dialokasikan dapat digunakan dengan cara yang paling efektif.

Untuk diskusi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi kami di 021 – 50265628 atau email info@erudite-indonesia.com